
 |
 |
|
|
|
Monday, May 02, 2005
| Beramai-ramai Menghujat al-Quran |
Oleh : Adian Husaini
Babak baru perkembangan liberalisme pemikiran adalah penghujatan Al-Qur'an. Seorang dosen IAIN bahkan menulis "Edisi Kritis al-Quran." Baca CAP ke-97 Adian Husaini
Umat Islam Indonesia sekarang memasuki babak baru yang sangat menentukan masa depannya. Arus sekularisasi dan liberalisasi yang kini diusung dan digelindingkan sendiri oleh sejumlah tokoh, kampus, dan organisasi Islam, telah menemukan bentuknya yang mendekati apa yang terjadi di dunia Kristen. Gagasan liberalisasi yang ratusan tahun lalu digelindingkan di dunia Yahudi dan Kristen kini dipaksakan kepada Islam. Maka, apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh umat Islam, sekarang sudah mulai harus dipikirkan.
Salah satu isu penting yang digelindingkan kaum liberal adalah masalah isu otentisitas al-Quran. Kaum Liberal – yang menganut paham pluralisme agama – tampaknya tidak rela, kalau kaum Muslim masih saja mengklaim, hanya agamanya saja yang benar, dan hanya Kitab Sucinya (al-Quran) saja yang benar. Sesuai paham pluralisme agama, maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok agama yang mengklaim hanya kitab sucinya saja yang suci.

Maka, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Quran. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas dari kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti al-Quran yang menjelaskan tentang otentisitas al-Quran, dan kekeliruan dari kitab-kitab agama lain.
Kata seorang yang aktif menjadi penyebar paham liberal di Indonesia: "Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat. (Jawa Pos, 11 Jan. 2004).
Jadi, orang tersebut tidak mau mengakui bahwa al-Quran adalah satu-satunya Mukjizat yang masih tersisa di zaman akhir ini, yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Padahal, begitu banyak ayat al-Quran yang menjelaskan tentang otentisitas al-Quran dan tindakan kaum Yahudi dan Kristen yang telah mengubah kitab sucinya sendiri, sehingga menurut al-Quran, kitab suci mereka itu sekarang menjadi tidak suci lagi. Misalnya, Allah SWT berfirman: "Sebagian dari orang-orang Yahudi mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya." (An Nisa: 46)
Juga firman-Nya: "Maka apakah kamu ingin sekali supaya mereka beriman karena seruanmu, padahal sebagian mereka ada yang mendengar firman Allah, lalu mengubahnya sesudah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahuinya." (al-Baqarah:75)
Dan firman-Nya: "Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakan: "Ini adalah dari Allah." (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat tindakan mereka. (al-Baqarah:79)
Itulah penjelasan al-Quran tentang kitab-kitab kaum Yahudi dan Kristen. Semestinya, sebagai orang yang mengaku Muslim, tentu ayat-ayat al-Quran itu menjadi pegangan hidup dan pedoman berpikirnya. Sebab, al-Quran adalah landasan utama keimanan seorang Muslim. Jika tidak mau mengakui kebenaran al-Quran, untuk apa mengaku Muslim! Konsistensi berpikir semacam ini sangat penting, sehingga tidak memunculkan kerancuan dan ketidakjujuran dalam beragama. Bagi kaum Kristen yang percaya Injil, tentu akan menolak al-Quran. Itu sudah normal dan wajar. Aneh, kalau seorang tetap mengaku Kristen, tetapi pada saat yang sama juga mengaku percaya kepada kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran.

Maka, adalah aneh dan keluar dari logika normal, kalau ada yang mengaku Muslim tetapi mengingkari kesucian al-Quran dan sekaligus juga mengimani kesucian kitab-kitab agama lain saat ini, yang sudah jelas-jelas banyak bagiannya bertentangan dengan al-Quran. Apalagi menyatakan bahwa semua kitab suci agama-agama lain adalah mukjizat. Sungguh pernyataan yang tidak masuk akal. Apakah Kitab Suci aliran kebatinan Darmo Gandul dan Gatholoco juga mukjizat?
Tetapi, rupanya, para penyebar dan pengasong ide-ide liberalisme di kalangan kaum Muslim, tidak berhenti sampai di situ. Mereka kini aktif menulis berbagai buku dan artikel yang mencoba menggoyahkan keyakinan kaum Muslim terhadap kesucian al-Quran. Seorang dosen Ulumul Quran di satu IAIN di Indonesia menulis satu makalah berjudul "Edisi Kritis al-Quran", yang isinya menyatakan: "Uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencoba mengungkapkan secara ringkas proses pemantapan teks dan bacaan al-Qur'an, sembari menegaskan bahwa proses tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Karena itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatu upaya penyuntingan edisi kritis al-Qur'an."
Jadi, si dosen itu ingin meyakinkan kepada kita, bahwa al-Quran kita saat ini masih bermasalah, tidak kritis, sehingga perlu diedit lagi. Dosen itu pun menulis sebuah buku serius berjudul "Rekonstruksi Sejarah al-Qur'an" yang juga meragukan keabsahan dan kesempurnaan Mushaf Utsmani. Dia tulis dalam bukunya (2005:379-381): "Terdapat berbagai laporan tentang eksistensi bagian-bagian terhentu al-Quran yang tidak direkam secara tertulis ke dalam mushaf oleh komisi Zayd, dan karena itu menggoyahkan otentisitas serta integritas kodifikasi Utsman…Dengan demikian, pandangan dunia tradisional telah melakukan sakralisasi terhadap suatu bentuk tulisan yang lazimnya dipandang sebagai produk budaya manusia."
Jadi, sekali lagi, penulis buku itu mencoba meyakinkan bahwa mushaf Utsmani masih bermasalah, dan tidak layak disucikan. Yang ironis, buku ini diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, tanpa memberikan kritik yang berarti. Dalam pengantarnya, Quraish menulis, "Kasarnya, ada sejarah yang hilang untuk menjelaskan beberapa ayat atau susunan ayat al-Quran dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas."
Penulis lain, seorang calon doktor dari satu Universitas di Australia yang juga rajin mengasongkan paham liberalisme, menulis sebuah catatan: "Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Al-Quran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma'nan).
Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam."
Ada lagi sebuah tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), yang secara terang-terangan juga menghujat Mushaf Utsmani. Tesis itu sudah diterbitkan dalam sebuah buku berjudul: "Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan", dan diberi kata pengantar dua orang doctor dalam bidang studi Islam, dosen di pascasarjana UIN Yogyakarta. Di dalam buku ini, misalnya, kita bisa menikmati hujatan terhadap al-Quran seperti kata-kata berikut ini:
"Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sacral dan absolute, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkekenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita."
Fenomena menghujat al-Quran seperti dilakukan oleh para sarjana dari kalangan Muslim semacam ini adalah fenomena baru dalam sejarah Islam Indonesia. Selama 350 tahun dijajah Belanda, fenomena semacam ini tidak pernah ada. Hal semacam ini sudah begitu lumrah dalam tradisi Kristen. Kritik terhadap Bibel sudah menjadi hal biasa. Mereka sudah mengembangkan satu bidang ilmu yang dikenal dengan nama "Biblical Criticism".
Tradisi Kristen semacam ini sekarang dibawa masuk ke dalam tradisi Islam oleh orang-orang dari kalangan Muslim sendiri, yang terpengaruh oleh tradisi Kristen. Jika kita simak sebuah buku berjudul "Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan" (Yogyakarta: Kanisius, 2003), tampak bagaimana pengaruh studi Bibel telah merasuk ke dalam studi al-Quran di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Para penyerang al-Quran sebenarnya hanya menjiplak ide-ide dan bukti-bukti yang disodorkan oleh para orientalis Yahudi dan Kristen. Bisa jadi, mereka juga mengambil fakta-fakta yang telah ditulis oleh para ulama Muslim. Tetapi, dianalisis dalam perspektif sesuai kepentingan orientalis. Jauh sebelumnya, pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Iraq dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, sudah mengimbau bahwa "sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures)."

Imbauan pendeta Kristen dan tokoh studi Islam itulah yang kini diikuti oleh begitu banyak sarjana dari kalangan Muslim. Fenomena penyerangan terhadap al-Quran ini harusnya menjadi perhatian paling serius oleh para ulama dan cendekiawan Muslim. Ini adalah bentuk kemungkaran yang sangat besar. Sebab, mereka telah membongkar satu asas keyakinan kaum Muslim yang paling asas, yaitu tentang kesucian al-Quran. Mungkin para penghujat al-Quran itu sedang khilaf. Mungkin ia merasa menemukan sesuatu yang hebat sehingga merasa dirinya lebih hebat dari para Imam dan ulama Islam terkemuka. Mungkin juga mereka sekedar iseng, karena motif-motif tertentu. Atau, mungkin juga ia merasa menemukan kebenaran.
Terlepas dari semua itu, buku-buku atau artikel yang mereka terbitkan, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Cendekiawan muslim wajib menjawabnya dengan cara-cara ilmiah yang lebih baik dari karya-karya mereka. Tentu saja ini bukan tugas yang ringan, dan memerlukan biaya yang sangat besar. Sebab, harus mengumpulkan literatur-literatur yang sangat banyak. Sayangnya, dalam Kongres Umat Islam yang baru lalu, masalah ini tidak disentuh. Padahal, masalah ini jauh lebih serius daripada masalah bencana alam, pornografi, dan sebagainya. Bukankah Rasulullah saw sudah berpesan, jika kita melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan, lisan, atau hati. Yang menjadi problem besar saat ini adalah ketika para cendekiawan Muslim sendiri tidak paham, bahwa saat ini telah terjadi kemungkaran yang besar semacam ini. Wallahu a’lam. (Jakarta, 29 April 2005/Hidayatullah.com).
(Jakarta, 29 April 2005/Hidayatullah.com)
|
Posted at 12:30 am by ameer
Permalink
Monday, April 25, 2005
Kelahiran Sebagai Momen Meneladani Pemimpin Agung (II)
Di Hari Kebangkitan
Di hari kiamat kelak,
umat manusia merasa panik menyaksikan kedahsyatan hari itu.
Mereka berduyun-duyun mendatangi
Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa...
tak seorang pun dari mereka bisa membantu.
Nabi-nabi itu semua menghawatirkan keadaan diri mereka sendiri
dan berkata, "Nafsi...nafsi...nafsi..."
Mereka kemudian mendatangi Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam,
beliau lalu bersujud di bawah Arsy cukup lama sehingga Allah berkata:
"Duhai Muhammad, angkatlah kepalamu...,
mintalah pasti Kukabulkan, berilah syafaat pasti Kukabulkan syafaatmu."
Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam lalu mengangkat kepalanya dan berkata:
"Ummatiy ya Rab..., Ummatiy ya Rab..., Ummatiy... ya Rab."
Betapa indah pertemuan yang agung itu!
Dalam hadirat serba gemilang;
Saat dzat (Rasul) memberi kesaksiannya
Bagi keagungan dzat (Allah) Tuhannya.
(tasyhadu fiiha adz-dzaatu li adz-dzaat)
- Habib Ali Al-Habsyi - Simtud Durar
(http://swaramuslim.net)
Posted at 12:47 am by ameer
Permalink
Sunday, April 24, 2005
Menyambut Hari Kartini, 21 April 2005
MINADZ DZULUMAATI ILA AN NUUR
( HABIS GELAP TERBITLAH TERANG)
Oleh: Epi Taufik
Dosen pada PS Teknologi Hasil Ternak, Fak. Peternakan IPB
Mantan Ketua Umum Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB
Tanggal 21 April bagi wanita Indonesia, adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Sebagian masyarakat beranggapan, Kartini memperjuangkan Emansipasi, Feminisme, Liberalisme, dll. Mereka beranggapan bahwa Kartinilah pelopor perjuangan wanita agar setara dengan laki-laki dalam berbagai hal. Nama Kartini mereka jadikan legalisasi atas apa yang mereka lakukan. Benarkah Kartini pejuang emansipasi dan feminisme? Atau tidak ada hubungannya sama sekali? Maka kita perlu meninjau kembali perjuangan Beliau.
Kartini besar dan belajar di lingkungan adat istiadat serta tata cara ningrat jawa, feodalisme, ia hanya boleh bergaul dengan orang-orang Belanda atau orang-orang yang terhormat dan tidak boleh bergaul dengan rakyat kebanyakan. Kartini tidak menyukai lingkungan yang demikian, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujukan kepada Stella, tanggal 18 Agustus 1899 diantaranya: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja”

Kartini mendobrak adat keningratan, karena menurutnya setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Itu beliau lakukan pada masa dimana seseorang diukur dengan darah keningratan. Semakin biru darah ningratnya semakin tinggi kedudukannya. Ini terlihat dalam suratnya pada Stella pada tanggal 18 Agustus 1899: “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pikiran (fikrah) dan Keningratan Budi (akhlak). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramala sholeh, orang yang bergelar Graaf atau Baron!”
Kartini berupaya untuk memajukan kaum wanita dimasanya (masa penjajahan). Pada saat itu wanita tidak mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki, mereka dinomor duakan, bahkan dalam segala aspek kehidupan. Perjuangan Kartini tidaklah berarti untuk menyaingi laki-laki, namun memberi kontribusi bagi perbaikan masyarakat Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902: “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”
Selain itu juga dapat di lihat dari suratnya kepada Nyonya Abendanon, 4 September 1901: “Pergilah! Laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik (haq) dan mana yang jahat (bathil). Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi”. Dengan demikian, perjuangan Kartini bukan hanya untuk kepentingan wanita, namun jauh lebih luhur lagi adalah bagi perbaikan tatanan kehidupan.
Pada awalnya, perjuangan Kartini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, namun pada dasarnya ia tidak memperjuangkan dan tidak menginginkan emansipasi dan feminisme. Keterpengaruhannya oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, dikarenakan ia belum memahami Islam secara benar. Ia mengaji dan membaca Alqur’an tetapi tidak dapat memahai isinya, sehingga ia tidak bisa merealisasikan di dalam kehidupannya. Kartini merasa kecewa dan ini diungkapkan pada suratnya yang ditujukan kepada Abendanon, tertanggal 15 Agustus 1902 : “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan apa manfatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan ustadz dan ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa,, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.
Selain itu Kartini memang banyak bergaul dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, seakan-akan mereka adalah orang yang ingin menolong Kartini, namun sebenarnya mereka adalah musuh dalam selimut. Mereka adalah Mr.J.H. Abendanon (memperalat Kartini untuk membaratkan gadis-gadis bumiputera saat itu, ia adalah teman Snouck Hurgronye, (orientalis Yahudi) dan istrinya; Dr. Adriani (sahabat pena Kartini, seorang ahli bahasa dan pendeta yang misinya menyebarkan agama Kristen di suku Toraja), Anni Glasser (Pengajar privat Kartini yang dikirim Abendanon untuk memata-matai dan mengikuti perkembangan Kartini, Stella (sahabat pena Kartini, wanita Yahudi, anggota militan Pergerakan Feminisme di Belanda), Ir. H. Van Kol (seorang insinyur, ahli dalam masalah-masalah kolonial, ia mendukung Kartini sekolah ke Belanda untuk menjadikannya saksi hidup akan kebobrokan pemerintahan Hindia Belanda di tanah jajahan hingga dapat memenangkan partainya (Sosialis) di Parlemen), dan Ny.Van Kol (yang berusaha mengkristenkan Kartini).
Tetapi, Kartini diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki dirinya, Ia bertemu dengan K.H. Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Lewat Kyai ini, Kartini terbuka pikirannya dan meminta diajarkan agama dengan mempelajari Al Qur'an dengan cara yang dapat ia mengerti. Kemudian Kyai Sholeh Darat memberikan Al Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada hari pernikahannya (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) jilid I yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah saat itu, Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Namun tidak berlangsung lama, karena Kyai Sholeh Darat meninggal dunia sebelum ia menyelesaikan terjemahan Alqur’an tersebut.
Pengaruh agama Islam ternyata sangat kuat membentuk dirinya dan merubah cara pandangnya kepada Barat, ini dapat terlihat pada surat-suratnya:
“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 5 maret 1902)
“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa yang kebarat-baratan” (Ditujukan kepada Ny Abendanon, 10 Juni 1902).
“Moga-moga Kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai” (ditujukan kepada Ny Van Kol, tgl 21 juli 1902)
“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902)
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut di sebut sebagai peradaban?”(di tujukan kepada Ny Abendanon, 27 Oktober 1902)
“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi????. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya“ (ditujukan kepada Abendanon, 31 Januari 1903)
“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkannya” (Ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903)
“Ingin benar, saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: hamba Allah (Abdullah)” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903).
Pada saat Kartini mempelajari Al Qur’an melalui terjemahan berbahasa jawa, Kartini menemukan dalam surat Al Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya:
“Allah Pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpin-pemimpin mereka ialah Thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”.
Maknanya: bahwa Allah lah yang telah membimbing orang-orang yang beriman dari kegelapan kepada cahaya (Minadz dzulumâti ilan Nûr). Kartini sangat terkesan dengan ayat ini, karena ia merasakan secara langsung proses perubahan dirinya sendiri, dari pemikiran jahiliyyah kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak mengulang kata-kata Dari Gelap Kepada Cahaya, yang olehnya ditulis dalam bahasa belanda dengan Door Duisternis tot Licht. Kemudian makna ini bergeser tatkala Armijn Pane menterjemahkan kata Door Duisternis tot Licht dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat ini sedikit demi sedikit telah menghilangkan makna yang dalam, karena diambil Kartini dari pemahamannya akan ayat Al qur’an, menjadi sesuatu yang puitis namun tidak memilik arti ruhiyyah.
Selanjutnya perjuangan Kartini, banyak disalah artikan oleh wanita-wanita Indonesia, dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang Feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan Feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Sehingga, muncul persepsi bahwa kebangkitan wanita perlu dilakukan dan ditingkatkan dengan menggunakan nama Kartini. Namun sayang, perjuangan wanita Indonesia kebanyakan telah menyimpang dari perjuangan Kartini, mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat mereka sebagai wanita. Tanpa mereka sadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan Feminisme dengan membawa ide-ide Kapitalisme–Sosialisme, yang pada akhirnya menjerumuskan wanita-wanita itu sendiri, bahkan membawa kehancuran bagi masyarakat dan negaranya. Hal ini disebabkan, mereka meninggalkan tugas utama sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur Rumahtangga) dan posisi mereka sebagai muslimah yang harus terikat dengan hukum-hukum syara’. Mereka telah terbelenggu kepada perjuangan yang bersifat individual dan semata-mata mendapatkan kemaslahatan.
Disinilah menjadi suatu keharusan, untuk meluruskan peran wanita (khususnya muslimah) dalam usaha untuk mengembalikan kehidupan yang hakiki yang didasarkan kepada Islam sebagai dîn yang Syamil dan Kamil. Perjuangan muslimah untuk kebangkitan ummat yang hakiki tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dengan laki-laki, karena untuk mewujudkan masyarakat Islam, dimana di dalam masyarakat itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, mengharuskannya berjuang bersama-sama, tidak terpisah-pisah dan bersaing satu sama lain.
Selain itu, perjuangan muslimah tidak hanya untuk skala Indonesia saja, karena umat Islam itu satu tubuh dan syari’atnya satu, nabinya satu dan Tuhannya satu. Sehingga, seharusnya target penegakan masyarakat yang Hakiki, adalah untuk seluruh ummat di dunia. Indonesia adalah salah satu tempat untuk mewujudkan terjadinya kebangkitan ummat yang hakiki, dengan didasarkan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sehingga menjadi suatu hal yang penting, muslimah bersama dengan laki-laki muslim bergerak dalam satu gerakan, yang memilik kejelasan pemahaman tentang pemikiran-pemikiran Islam (fikrah) dan metode (thariqah) untuk mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki yaitu kebangkitan Islam untuk diterapkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini. Selain itu, aktivitas muslimah untuk terlibat mewujudkan kebangkitan yang hakiki jangan sampai meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan fungsi utamanya sebagai ummun wa robbatul bait. Disinilah dituntut bagi muslimah, untuk mampu mengatur diri dan melaksanakan konsep aulawiyyat (prioritas) dalam aktivitasnya, sehingga tidak membawa kemudhorotan bagi diri, keluarga, masyarakat dan negaranya. Semoga btulisan ini, dapat membantu para muslimah untuk dapat ikut berjuang mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki, tentu bersama dengan keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Amîn.
Posted at 11:41 pm by ameer
Permalink
Kelahiran Sebagai Momen Meneladani Pemimpin Agung (I)
Bila saja engkau lebih mengenalnya...
oleh Dr. Fethullah Gulen
Nabi Muhammad, sallallahu alaihi wasallam, adalah kebanggaan umat manusia. Selama sepanjang 14 abad, banyak pemikir, ahli filsafat, ilmuwan dan kaum cendekia, yang masing-masing merupakan bintang di bidang keilmuannya, berdiri di belakang pribadi ini, dengan rasa hormat dan kekaguman, dan dengan bangga rela masuk sebagai bagian dari ummatnya...
Peristiwa-peristiwa aneh terjadi di malam kelahirannya...
Sebagian besar patung-patung di dalam ka'bah roboh, istana kaisar Sassanid goyang dan retak, dan empatbelas ornamen di puncak bangunannya runtuh. Danau kecil di Sawa Persia lenyap tertelan bumi, dan api yang dipuja orang-orang Magia di Istakhrabad, yang terus menyala sepanjang seribu tahun, tiba-tiba pada.
Bersamaan dengan peristiwa-peristiwa ini, kepribadian yang berbeda yang dia tunjukkan sejak masa kanak-kanaknya, serta pertanda-pertanda penuh makna pada dirinya, yang dapat dimengerti oleh orang-orang "yang mampu mengerti", merupakan isyarat bahwa dia akan mengemban tugas mahabesar di kemudian hari...
Waktu yang berjalan tak membuat kita lupa atas kebenaran dalam hal dirinya. Dia begitu segar dalam alam pikiranku, hingga begitu aku menyebut namanya yang suci itu, seolah-olah beberapa langkah lagi aku akan menjumpainya.
Sekali waktu, saat aku berziarah ke Madinah, kotanya yang penuh rahmat, aku merasakan seakan dia akan muncul dan menyambut kami. Ketika masa berlalu, berbagai ingatan dapat terlupakan, namun ingatan akan Muhammad, salallahu alaihi wasallam, tetap lah segar di hati kaum Muslimin - sesegar mawar yang baru mekar. Karena alasan inilah, begitu namanya dikumandangkan dari puncak-puncak menara, banyak di antara kita yang meninggalkan pekerjaan, bersigegas ke masjid, menyambut ajakannya...
Aku berandai, apakah kita benar-benar mengenal orang yang paling dikasihi oleh begitu banyak hati manusia ini. Bahkan aku sendiri, yang sejak usia lima tahun telah menjalankan ibadah sembahyang lima kali sehari, dan selalu berusaha dapat menjadi "hamba" di depan pintunya, aku pun bertanya pada diri sendiri, apakah aku benar-benar telah mengenalnya? Apakah kita telah berhasil mendeskripsikan sumber cinta dan antusiasme utama ini, hingga dapat membukakan hati umat manusia masa ini?
Muhammad buta huruf. Dia tak belajar dari siapa pun sepanjang hayatnya dan tak pernah dipengaruhi berbagai ajaran dari tradisi menulis masa itu. Menjelang usianya menginjak empat-puluh tahun, dia seringkali menyendiri ke dalam gua Hira'.
Orang yang buta huruf ini, pada saatnya keluar dari gua Hira' dengan pesan baru yang sepenuhnya otentik, untuk mengobati semua luka pada umat manusia, dan menantang semua pengarang genius masa itu, untuk mencipatakan karya yang mampu menyamai pesan otentik yang diterimanya. Ini saja cukup menunjukkan bahwa dia adalah seorang Nabi yang diutus oleh Tuhan untuk membimbing umat manusia ke arah kebenaran.
Perkenankan aku menceritakan sebuah pengalaman yang terjadi saat kunjunganku ke kota sucinya Muhammad.
Suasana khusyuk begitu kuat. Sesuatu terjadi dalam diriku. Setiap pagi aku berdoa kepada Tuhan sebanyak tujuh kali, O Tuhanku, selamatkan aku dari siksa neraka dan masukkan aku ke dalam surgaMu bersama-sama orang yang kau pilih. Tak ada orang beriman yang tak menghendaki masuk ke dalam surga...
Namun, dalam suasana yang seperti ini, aku bertanya pada diri sendiri: "bila engkau diundang masuk ke surga melalui salah satu dari tujuh pintu-gerbangnya, mana yang kau pilih - masuk ke dalam rawdhah, ruang di dalam masjid dekat kubur Nabi, atau masuk ke dalam surga?"
Sungguh, aku bersumpah ke hadapan Tuhan, saat itu aku mengatakan: "Tempat ini lebih mengundang bagiku. Disini aku punya kesempatan mengusapkan ke wajahku tanah jejak junjunganku, dimana di pintu Nabiku ini aku telah memilih menjadi "budak yang terantai", lebih dari yang lainnya di dunia ini. Aku tak ingin kehilangan kesempatan ini..."
Bila saja umat manusia mengenal Muhammad secara benar, mereka pasti akan jatuh cinta padanya sebagaimana Majnun jatuh cinta pada Laila. Kapan pun namanya disebut, hati mereka akan tergetar oleh rasa gembira, karena harapan dapat masuk ke dalam aura mulia yang mengitarinya, dan siap mengikuti jalannya - sepenuh hati.
Dr. Fethullah Gulen , Dikutip dari tulisan panjang "The Life of The Last Prophet Muhammad", oleh Dr. Fethullah Gulen. Judul dari kami. Dapat juga di baca disini:
http://www.mawlid.net/Seerah/prophetmuhammad/preface.html
(http://swaramuslim.net)
Ia adalah contoh kebaikan
oleh Karen Armstrong
Sesungguhnya Muhammad telah menetapkan standar “persaudaraan” yang tinggi dalam perilakunya sendiri. Laki-laki yang semakin ditakuti oleh para musuhnya ini justru sangat dicintai di dalam ummatnya. Meskipun terus menerus dalam keadaan bahaya, ummatnya tampak tetap sebagai sebuah komunitas yang bahagia.
Muhammad menolak menciptakan jurang formalitas antara dirinya dengan kaum Muslim lainnya. Dia tak suka dipanggil dengan berbagai sebutan dan gelar kehormatan yang megah-megah. Dia kerap terlihat duduk di lantai masjid di antara anggota masyarakat termiskin dari komunitasnya. Terutama anak-anak, sangat mudah mereka dekat padanya. Dia seringkali mengangkat, memeluk dan mencium mereka.
Bila dia telah pergi lama dalam suatu ekspedisi, menjadi kebiasaan anak-anak di dalam ummatnya untuk menyongsong kedatangannya bersama rombongan saat mereka tiba. Anak-anak itu akan berada di depan bersama rombongan, memasuki oase dalam upacara kemenangan penuh suka-cita.
Jika dia mendengar bayi menangis di masjid saat shalat Jum’at, dia hampir selalu cepat-cepat menyelesaikan shalat yang dipimpinnya, lebih cepat dari biasanya. Dia tak sampai hati membayangkan kegalauan perasaan ibu sang bayi.
Penanaman rasa kebaikan dan iba merupakan pusat pesan Islam sejak awal mula. Hukumnya mungkin tampak seperti alat tumpul pada masa ini, namun proses penghalusan (tazaqqa) sikap Muslim sebenarnya lah telah dimulai sejak saat itu.
Lagi, Muhammad memberikan contohnya. Ada sebuah Hadith bahwa suatu hari ia melihat orang yang dibebaskan (bekas budak) tengah mengerjakan tugas berat. Nabi berjalan ke arahnya dan perlahan-lahan dari belakang menutupkan tangannya ke kedua mata orang itu, seperti permainan anak-anak. Orang itu langsung yakin, bahwa itu pasti Nabi, karena hanya Nabi lah yang mau bertindak penuh kasih-sayang seperti itu, demi membahagiakan harinya.
Allahumma Salli wa Sallim 'alaa Sayyidina Muhammad-i
Ni'lladhee jama'ta feehi min mahaasinil akhlaaq
Maa lam tajma'hu fee gayrihi.
Ya Allah, limpahkan salam sejahtera bagi Sayyidina Muhammad
Pada siapa Engkau gabungkan seluruh keutamaan ahlak mulia
Gabungan keutamaan yang tak Engkau berikan pada siapa pun selainnya.
- Lataaifil 'Arshiyyah - Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Dari Iqra.net.
Karen Armstrong , Dari Karen Armstrong, ‘Muhammad: A Biography of the Prophet’, London: Victor Gollancz, 1995, p. 230-1
(http://swaramuslim.net)
Posted at 03:16 pm by ameer
Permalink
Saturday, April 23, 2005
Dunya
Siang berganti malam. Matahari mengisi siang sementara bulan dan bintang-bintang mengisi malam. Bumi terhampar begitu luasnya, sementara langit tegak tak bertiang. Langit menjadi indah tatkala pelangi menghiasinya selepas hujan. Gunung begitu kokoh menjulang, menginspirasikan manusia bahwa dia kecil dan lemah. Sementara laut, yang indah dengan birunya, menjadi rumah raksasa bagi jutaan mahluk. Itulah sebagian kecil fenomena hebat yang kita lihat dengan mata kita dalam kehidupan dunia.
Dunia menjadi indah karena keberadaan mereka, yang telah menjalankan fungsi mereka dengan baik. Tapi, akan sampai kapankah dunia dengan keindahannya itu diberi waktu oleh The Creator untuk menjadi rumah bagi manusia dan mahluknya yg lain..????? Masih rahasia. Bahkan seorang hamba yang paling mulia, penghulu para Anbiya wal Mursaliin dan mahluk terkasih-Nya pun megatakan tidak tahu. Namun, satu hal yang jelas dan pasti dunia tidaklah abadi. Akan tiba saatnya, bumi bergoncang dan menumpahkan semua isi yang dikandungnya. Akan nyata terlihat bahwa gunung-gunung menjadi seperti al-‘ihn al-manfuusy. Terlalu ringan untuk angin. Dan ketika itu manusia saling bertanya, ada apakah ini…????
Lalu, sekarang apa yang akan q-ta perbuat di dunia ini…???
Banyak ungkapan populer yang sering q-ta dengar tentang dunia. Diantara ungkapan-ungkapan itu adalah bahwa ia sekedar tempat singgah untuk minum kopi. Mungkin kedengarannya terlalu menyederhanakan. Tapi, kalo maksud sang pembuat analogi, bahwa kehidupan dunia cuman sebentar, ya itulah dunia…karena memang kan demikian. Bahwa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, sehari di dunia seperti seper ribuan hari di akhirat. So,…seberapa lama sich orang kalo minum kopi ? Yach seperti itulah q-ta hidup di dunia. Kira-kira begitu lah..penjelasan ungkapan tersebut. Benar tidaknya, sementara anggap aja bener dulu lah yaaa….(kok maksaa…..?)

Dunia adalah panggung sandiwara. Iki seperti yang dilantunkan oleh Mbah Achmad Albar. “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah….ada peran wajar dan ada peran berpura-pura…”. The question is…benarkah dunia ini seperti panggung sandiwara ?
Jawaban apapun bisa benar tergantung dari sudut pandang mana jawaban itu berasal. Begitupun ketika saya ingin mencoba menjustifikasi ungkapan ini. InsyaAllah saya tidak akan pernah menilai ungkapan ini dengan berpendapat bahwa ketika q-ta makan, melangkah, ngaji, belajar, mabok, berzina dan perbuatan lain yang secara sadar q-ta melakukannya, itu semua adalah sudah ditetapkan oleh Allah. Maksudnya q-ta dipaksa oleh Allah untuk melakukan itu. Tidak…, sekali lagi tidak. Allah tidak pernah memaksa q-ta untuk berbuat jenis perbuatan yang telah saya sebutkan di atas.
Lain perkara dengan perbuatan-2 or kejadian-2 yang diluar kehendak q-ta, seperti kenapa q-ta bermimpi ketika tidur, kenapa saya laki-laki or situ perempuan, kenapa saya jelek and situ cakep, kenapa q-ta gak bisa terbang seperti superman. Eh, tapi jangan ketipu lho ya, superman tuch aslinya gak bisa terbang, klo dalam film iya. Namanya juga film, q-ta juga biiisa... Kalo yang ini bener, itu adalah taqdir Allah atas q-ta. Q-ta gak bisa apa-apa. Beda dengan contoh perbuatan yang di atas lho yaa…Trus apa sich bedanya ? Perbedaannya adalah klo contoh perbuatan-2 yang pertama itu bisa bernilai pahala atau dosa. Sementara contoh perbuatan-2 yang kedua adalah gak ada beban buat q-ta, kecuali sabar tidaknya q-ta menerima ketetapan Allah yang menimpa q-ta.
So, sekali lagi ketika diminta untuk menilai ungkapan bahwa “dunia adalah panggung sandiwara” saya tidak akan menilai dengan penilaian di atas. Kenapa demikian ? Karena menurut saya dunia bukanlah sandiwara yang notabene matan-nya adalah kepura-puraan. Seperti lanjutan dari lagunya rocker gaek q-ta. Qta…? Loe kaleee…..;). “Mengapa q-ta bersandiwara…???”. So, buat para artis yang getol berbuka-2an ketika bermain sandiwara dengan alasan sekedar tuntutan peran, itu adalah sesuatu yang nyata bahwa ia telah melanggar aturan berbusana yang baik (baik menurut Sang Pencipta lho yaa…). Trus bagaimana saya akan menilai ungkapan itu ? Begini ceritanya…..(ikut-2 an kismis aja….)
Menyamakan dunia dengan panggung sandiwara akan pas jika q-ta beranjak pada pakem bahwa di dalam dunia persandiwaraan, yang namanya artis or pemain harus taat ama sutradara. Arahan sutradara harus diperhatikan dan dilaksanakan ama para pemain. Pemain boleh ber-improvisasi asal tidak keluar dari kerangka berpikir sang sutradara atau skenario. Pemain yang tidak taat sama arahan sutradara, sudah pasti akan dibentak abis. Sebaliknya artis yang pintar memainkan karakter yang diinginkan oleh sang sutradara, akan menuai pujian. Tidak hanya dari sang sutradara tapi juga dari pihak luas, pecinta persandiwaraan.
Yach dari sisi itulah saya menilai ungkapan bahwa dunia adalah panggung sandiwara. Kata kuncinya ketaatan. Jika berfikir mustanir (cemerlang), maka q-ta akan meyakini bahwa pencipta q-ta tidak mungkin membiarkan q-ta hidup di dunia tanpa arahan. Krn jika q-ta dibiarkan hidup tanpa arahan, maka yang terjadi adalah seperti hukum rimba. Manusia yang seperti singa akan berkuasa. Sementara manusia seperti kijang akan terus berlari karena terus diburu. Padahal keberadaan q-ta (manusia) di bumi adalah sebagai pengatur bumi. So, pasti our creator memberikan q-ta rambu-rambu agar hidup q-ta menjadi teratur dan beradab.
Nah rambu-rambu itulah objek ketaatan q-ta. Jika dalam kehidupan dunia, q-ta berjalan tidak dengan lentera yang pencipta q-ta buat, maka arah timur bisa menjadi barat menurut q-ta. Apa maksudnya ? Kesasar Sonnnnn……Begitu pun sebaliknya. Andai manusia menjadikan lampu merah Ilahi sebagai acuan hidup dia, maka ridho Sang Pencipta atasnya. N ngomong-ngomong tentang ridho-Nya, maka sesungguhnya itulah makna kebahagiaan haqiqi. Siapa sich yang gak bahagia diridhoi/dicintai ama pemilik alam semesta..??? Baru dicintai ama Si-Ehm aja berjuta rasanya, he..he..he…..tu bi kontinyud….
Posted at 05:16 pm by ameer
Permalink
Friday, February 18, 2005
Mungkin qta pernah mendengar kata-kata itu. And saya pikir qta akan membenarkan kata-kata itu. Namun, mungkin perlu qta sedikit perjelas tentang kata-kata itu. Yang dimaksud hidup di sana adalah bukan hidup yang terkait dengan keberadaan ruh (nyawa=rahasia kehidupan) dalam diri manusia sehingga manusia bisa tumbuh dan bergerak (hidup). Jikalau ruh tersebut Alloh ambil maka manusia akan kehilangan hidupnya (mati). Hidup yang dimaksud kata-kata itu bukanlah hidup yang berujung kematian, karena hidup di sana bukanlah pilihan, tetapi itu adalah keniscayaan (kepastian) yang manusia tidak akan bisa memilih. Manusia tidak akan pernah bisa mengelak kelahiran dia atau datangnya ajal sebagai penyebab saat kematian dia.
Penulis pikir yang dimaksud hidup di sana adalah konsekuensi manusia menjalani hidup. Nah, pada saat itulah manusia akan banyak dihadapkan pada banyak pilihan untuk menjalani hidup. Pilihan-pilihan itu bisa bersifat ekstreme artinya pilihan antara memilih baik dan buruk atau halal dan haram. Bisa juga pilihan yang bersifat sama-sama baik, sama-sama boleh, atau sama-sama buruk. Pilihan-pilihan tersebut menuntut qta untuk berpikir tentang pilihan yang akan qta ambil. Artinya qta harus punya pemahaman terlebih dahulu terhadap realitas pilihan-pilihan yang qta hadapi, untuk kemudian qta pilih (eksekusi) berdasarkan standar hidup qta, yang menjadi standar pemahaman, berpendapat dan tingkah laku qta. Ada orang yang bilang bahwa ketika seorang manusia tidak memiliki standar hidup, maka dia ibarat kapal yang tidak punya nahkoda yang akan selalu kebingungan menentukan arah perjalanan. Artinya bisa dikatakan orang yang tidak punya standar hidup akan selalu kebingungan ketika akan menentukan pilihan. Jangankan untuk yang sifatnya sama-sama tadi, bahkan untuk pilihan yang sifatnya ekstreme saja dia akan bingung. Hal itu karena standar hidup lah yang memang akan menentukan apakah itu pilihan ekstreme atau tidak. Manusia yang menjadikan hukum-hukum islam sebagai standar hidup dia, pasti akan menganggap pilihan untuk berseks bebas ataukah menikah adalah sebuah pilihan yang ekstreme, tetapi tidak untuk mereka yang menyandarkan standar hidupnya pada ideologi lain, seperti kapitalis dan sosialis. Standar hidup juga akan menentukan orientasi hidup seseorang. Malah bisa dikatakan standar hidup adalah orientasi hidup itu sendiri.

Berbicara tentang pilihan sesungguhnya qta berbicara tentang hal yang sangat serius. Ke-islam-an qta adalah pilihan, bukan turunan atau paksaan. Meskipun keislaman qta awalnya didapat karena keislaman orang tua qta, tetapi suatu saat pasti qta akan dihadapkan pada satu kondisi dimana islam menjadi objek yang harus dipilih atau tidak. Saudara-saudara qta yang pernah mengalami aksi kristenisasi adalah salah satu contoh orang-orang yang telah telah berhadapan dengan realitas bahwa keislaman adalah pilihan. Sekali lagi berbicara tentang pilihan adalah berbicara tentang hal yang sangat serius, karena disana melibatkan standar hidup (aqidah), orientasi hidup, konvensi masyarakat (adat, opini umum), dan bisa juga orang-orang di seqtar qta, yang menghendaki ‘kebaikan’ buat qta sebagai subjek pemilih (eksekutor).
Saat ini, qta mungkin (mungkin lho….) belum begitu menemukan kesulitan dalam menentukan pilihan-pilihan yang bersifat ekstreme, berbeda dengan pendahulu-pendahulu qta terdahulu, dimana mereka dihadapkan kepada pilihan islam ataukah kafir. Dengan satu konsekuensi, jika islam yang dipilih sebagai aqidahnya, maka siksaan atau pembunuhan akan membayangi mereka. Walaupun sekarang qta di indonesia tak seekstreme kondisi mereka dahulu, tapi qta sebagai generasi mereka, tetap saja kesulitan di dalam usaha menjalankan pilihan qta. Pilihan untuk menjadi muslim yang komprehesif dan taat terhadap pelaksanaan hukum-hukum Alloh. Misal, menjadi muslimah yng berjilbab masih dipandang aneh di masyarakat, apalagi di era-era dahulu. Atau banyak hukum-hukum-Nya yang lain yang saat ini qta belum diberi kesempatan untuk menjalankannya karena kondisi yang tidak memungkinkan. So, menjadi hamba (penyembah) Alloh adalah termasuk pilihan.
Yach, begitupun dengan pendidikan, pekerjaan, berpasangan, berjuang dan semua hal yang itu di bawah kendali kesadaran qta. Qta dibebaskan untuk memilih. Semuanya tergantung qta, dengan standar apa qta ‘memvonis’ mana yang menjadi pilihan qta.
Dan menerima apa adanya adalah terkait dengan penerimaan qta terhadap hasil dari pelaksanaan vonis qta terhadap suatu pilihan. Kalaulah memang hasil itu adalah sesuatu yang bisa berubah dengan andil usaha qta (manusia), maka qta bisa berusaha semaksimal mungkin untuk mengubahnya dengan rambu-rambu yang benar tentunya. Tetapi, kalau hasil itu adalah sesuatu yang secara fitrah tidak bisa berubah, maka terimalah apa adanya. Sebagai ilustrasi, kalau pilihan qta terhadap suatu pekerjaan ternyata belum memuaskan qta dari segi output (ujroh=hasil, gaji), maka sudah seharusnya sikap qona’ah ada pada diri qta tanpa meninggalkan optimisme untuk bisa berubah suatu saat. Qta masih bisa bisa mengubah keadaan itu dengan mengoptimalkan pekerjaan qta tersebut atau mencari pilihan kerja yang lain. Pun halnya dengan berpasangan. Selama seseorang menemui satu hal yang kurang pada pasangan dia, yang itu secara kesadaran memang bisa diubah, kenapa dia tidak berusaha untuk mengubahnya ??? berbeda jikalau kekurangan itu adalah sesuatu yang sifatnya secara fitrah tidak bisa atau tidak boleh diubah. Misalkan seorang isteri yang mendapati suaminya kurang/tidak bisa membaca al-qur-an, maka seharusnya dia berusaha untuk mengajarkan atau mengingatkan suaminya agar belajar membaca al-qur-an. Karena bagaimanapun, di dalam keluarga suamilah yang harus menjadi imam. Lain perkara jika sang suami mendapati isterinya memiliki kekurangan dalam hal fisik, misalkan berwajah ayu (J) atau berhidung pesek. Maka itu adalah sesuatu yang berada di luar kendali kesadaran si suami untuk merubahnya.
So….., hidup adalah pilihan. Wallohu a’lam bishshowaab. Al-haqqu min robbika falaa takuunanna minal mumtariin.
(buah penggalian di ramadhan akhir 1425 H)
Seperti yang pernah ditulis untuk seorang motivator nun jauh di sana
(dengan sedikit revisi)
Posted at 01:51 pm by ameer
Thursday, February 17, 2005
Manifestasi Keimanan untuk Musibah dan Kesenangan
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” (QS. Al-Ma’arij:19).
Umumnya manusia enggan menghadapi cobaan hidup. Mereka akan cenderung kecewa dan tidak sabar. Mulut-mulut mereka akan senantiasa penuh dengan keluhan. Sementara, ketika kesenangan menyambangi, mereka enggan untuk berbagi. Demikianlah sifat dasar manusia yang Allah sitir pada ayat Al-qur’an di atas.
Kenyataan di atas bisa kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Fenomena depresi dan stress adalah buah dari sifat tersebut ketika kita mengahadapi cobaan hidup. Kita merasa habis dan sulit untuk bangkit. Yang ada di benak kita kemudian adalah pertanyaan dan pernyataan tentang ketidakadilan Allah. Kenapa kita yang ditimpa musibah begitu berat, padahal kita sholat, zakat, dan beribadah yang lain? Kenapa bukan orang-orang israel itu, yang telah membunuhi anak-anak palestina dan selalu menghinamu, Ya Allah. Tidak sekedar bermain di benak, tapi bahkan senantiasa kita ucapkan.
Sholat,zakat dan ibadah-ibadah kita bisa jadi akan segera kita tinggalkan, tatkala pertanyaan dan pernyataan itu selalu menyibukkan kita. Rasa frustasi akan musibah beruntun telah membutakan asa kita akan kehidupan abadi setelah mati. Betapa meruginya kalau kita seperti ini.
Pun demikian ketika kita mendapatkan kesenangan. Sejarah mencatat, betapa banyak manusia yang jatuh dalam kesesatan ketika mendapatkan kesenangan. Mereka menjadi kikir dan sombong karenanya. Mereka meninggalkan Tuhan yang memberikan mereka kekayaan. Qorun dan Tsa’labah adalah contoh manusia yang tidak tahu diri dalam memandang kesenangan yang mereka dapat.

Rasulullah dan para sahabat adalah suri tauladan terbaik bagi kita. Tidak terkecuali dalam masalah menghadapi musibah dan menikmati kesenangan. Mereka adalah contoh manusia-manusia yang sarat dengan musibah dan tidak sedikit mendapat kesenangan. Namun, mereka tidak bunuh diri ketika ditimpa musibah. Mereka bersabar dan tetap berkhusnuzhan kepada Allah dengan menganggap musibah itu sebagai bentuk ujian dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Mereka meyakini bahwa dengan ujian Allah akan menjadikan mereka sebagai hamba-hamba-Nya yang lurus. Mereka teringat sabda Nabi SAW:
“orang yang paling hebat ujian di antara manusa adalah para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Kalau ia memiliki keteguhan dalam agamanya, maka ia diuji dengan kadar yang setara dengan itu. Jika ia lemah maka ia kurang diperhitungkan dalam pemberian ujian. Ujian itu tidak henti-hentinya menimpa seseorang sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi ini tanpa kesalahan”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sementara, di saat mereka mendapat kesenangan, maka mereka akan segera bersyukur kepada Allah SWT. Aisyah r.a. pernah mengatakan bahwa tatkala turun firman Allah SWT Surat Ali-Imran: 190, beliau SAW sedang melakukan sholat. Lalu datanglah Bilal Bin Rabah r.a. yang menyerunya untuk sholat. Bilal melihat beliau sedang menangis. Dia bertanya kepada Rasulullah SAW.: “wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa Anda terdahulu maupun yang kemudian?”. Beliau menjawab: “wahai Bilal, tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur. Sungguh pada malam hari ini Allah telah menurunkan ayat:
“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir (ulil albab)”.
Kemudian Beliau bersabda: “celakalah orang yang membacanya, tetapi tidak memikirkannya”.
Sabar dan berkhusnuzhan terhadap Allah ketika ditimpa musibah dan bersyukur ketika dikaruniai kesenangan adalah buah dari keimanan yang mantap. Keimanan yang mantap adalah keimanan yang dibangun dari pemahaman yang benar tentang rahasia di balik penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam. Keimanan yang berlandaskan kesadaran bahwa di balik keberadaan alam semesta ini terdapat kekuatan tak terbatas, yaitu Sang Pencipta (Al-Khaliq). Dialah Allah SWT. Bukan keimanan yang dibangun atas dasar syak atau wijdan (dugaan). Keimanan seperti inilah yang akan menjadikan pemiliknya senantiasa berpikir positif tentang musibah dan tidak lupa diri ketika mendapatkan kesenangan. Mereka meyakini bahwa musibah dan kesenangan merupakan qadha (ketetapan) dari-Nya. Wallahu a’lam bishshowaab
Posted at 06:11 pm by ameer
Permalink
|
|

|
|
|
ameer adalah namaku,
mottokoe selalu berusaha untuk berani menjalani hidup,
hobbykoe soccer and reading,
fav movie are the duel (Andy Lau) and fist of legend (Jet Li),
fav anime movie samurai x,
fav banner rayyah and liwa',
menjadi orang baik menurut-Nya adalah cita-citakoe, abash_sn@yahoo.co.uk e-mailkoe.
|